Category Archives: What is New?

Here I put everything that I’ve just posted recently.

Umat Kristen Indonesia BUKAN Warga Negara Kelas II

 

“Bagi kami negara ini adalah karunia Tuhan kepada tanah dan Bangsa Indonesia seluruhnya, yang wajib dipelihara. Oleh karena ini adalah karunia Tuhan, maka sudah sepatutnya kami bertanggung jawab penuh atasnya, baik terhadap sesama manusia maupun dan terlebih lagi terhadap Tuhan …

Tanggung jawab kami itu pertama-tama terhadap Tuhan kami dan selanjutnya terhadap sesama manusia. Kami pula yakin bahwa umat Kristen di Indonesia bukanlah suatu golongan yang tersendiri di kalangan masyarakat Indonesia, melainkan bahwa umat Kristen adalah sebahagian yang mutlak daripada bangsa dan masyarakat Indonesia. Yang telah turut memperjuangkan dan mempertahankan tanah dan bangsa Indonesia, yang turut menderita bila bangsa Indonesia menderita, dan turut bersukaria jika Bangsa Indonesia bersukaria.

Tugas kami umat Kristen di Indonesia dalam lapangan kenegaraan ialah turut mengusahakan kesejahteraan, perdamaian, keadilan dan keterlibatan untuk seluruh rakyat Indonesia, baik dengan kata maupun dengan perbuatan, berdasarkan pada rencana keselamatan Tuhan kami yang nyata dalam Kitab Suci kami, Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia, demikian juga Juruselamat Indonesia! Ini keyakinan kami.”

 

– Pidato Ds. W.J. Rumambi (Sekjen I Dewan Gereja-gereja di Indonesia)

pada Sidang Konstituante tahun 1957 –

Sikap terhadap orang asing

Dua Orang Hitam dalam Lift

Baru-baru ini di Atlantic City – AS, seorang wanita memenangkan sekeranjang koin dari mesin judi. Kemudian ia bermaksud makan malam bersama suaminya. Namun, sebelum itu ia hendak menurunkan sekeranjang koin tersebut di kamarnya. Maka ia pun menuju lift.

Waktu ia masuk lift sudah ada 2 orang hitam di dalamnya. Salah satunya sangat besar . . . Besaaaarrrr sekali. Wanita itu terpana. Ia berpikir, “Dua orang ini akan merampokku!” Tapi pikirnya lagi, “Jangan menuduh, mereka sepertinya baik dan ramah.”

Tapi rasa “rasialnya” lebih besar sehingga ketakutan mulai menjalarinya. Ia berdiri sambil memelototi kedua orang tersebut. Dia sangat ketakutan dan malu. Ia berharap keduanya tidak dapat membaca pikirannya; tapi Tuhan, mereka harus tahu yang saya pikirkan!

Untuk menghindari kontak mata, ia berbalik menghadap pintu lift yang mulai tertutup. Sedetik . . . dua detik . . . dan seterusnya. Ketakutannya bertambah! Lift tidak bergerak! Ia makin panik! Ya Tuhan, saya terperangkap dan mereka akan merampok saya. Jantungnya berdebar, keringat dingin mulai bercucuran.

Lalu, salah satu dari mereka berkata, “Hit the floor” (Tekan Lantainya). Saking paniknya, wanita itu tiarap di lantai lift dan membuat koin berhamburan dari keranjangnya. Dia berdoa, ambillah uang saya dan biarkanlah saya hidup.
Beberapa detik berlalu. Kemudian dia mendengar salah seorang berkata dengan sopan, “Bu, kalau Anda mau mengatakan lantai berapa yang Anda tuju, kami akan menekan tombolnya.” Pria tersebut agak sulit untuk mengucapkan kata-katanya karena menahan diri untuk tertawa.

Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat kedua orang tersebut. Mereka pun menolong wanita tersebut berdiri. “Tadi saya menyuruh teman saya untuk menekan tombol lift dan bukannya menyuruh Anda untuk tiarap di lantai lift,” kata seorang yang bertubuh sedang.

Ia merapatkan bibirnya berusaha untuk tidak tertawa. Wanita itu berpikir , “Ya Tuhan, betapa malunya saya. Bagaimana saya harus meminta maaf kepada mereka karena saya menyangka mereka akan merampokku.” Mereka bertiga mengumpulkan kembali koin-koin itu ke dalam keranjangnya.

Ketika lift tiba di lantai yang dituju wanita itu, mereka berniat untuk mengantar wanita itu ke kamarnya karena mereka khawatir wanita itu tidak kuat berjalan di sepanjang koridor. Sesampainya di depan pintu kamar, kedua pria itu mengucapkan selamat malam, dan wanita itu mendengar kedua pria itu tertawa sepuas-puasnya sepanjang jalan kembali ke lift. Wanita itu kemudian berdandan dan menemui suaminya untuk makan malam. Esok paginya bunga mawar dikirim ke kamar wanita itu, dan di setiap kuntum bunga mawar tersebut terdapat lipatan uang sepuluh dolar. Pada kartunya tertulis: “Terima kasih atas tawa terbaik yang pernah kita lakukan selama ini.”

ttd

Eddie Murphy & Michael Jordan

(sumber cerita: milis GSM GKI Pondok Indah)

  • Refleksi

Seringkali kita menilai orang asing, yang baru kita kenal dari penampilan fisik mereka. Hal ini disebabkan karena kita begitu mudah terpengaruh dengan kesan yang kita peroleh dan ide kita tentang hal yang asing tanpa berpikir kritis terhadap fakta di balik kesan itu. Apakah kesan itu benar atau salah.

Kesan yang diberikan oleh media dan lingkungan terhadap sesuatu yang berwarna hitam atau gelap seringkai negatif (kotor, jelek, kasar, dsb.). Sementara terhadap sesuatu yang berwarna putih atau terang cenderung positif (bersih, indah, halus, dsb.).

Yang lebih “tidak benar” adalah jika kesan tersebut direfleksikan terhadap manusia. Hasilnya adalah diskriminasi terhadap orang yang berkulit hitam dan putih!

Padahal hal itu tidak tepat dan tidak benar. Tidak semua orang yang berkulit hitam identik dengan sifat jelek, kasar dan kotor. Demikian sebaliknya, orang yang berkulit putih tidak selalu bersih, indah dan baik.

Iman Kristen mengajarkan kita untuk tidak berpikir demikian. Tuhan tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan atau perawakan fisik mereka saja, karena apa yang dilihat manusia tidak sama dengan apa yang dilihat Allah. Tuhan melihat hati manusia (1 Samuel 16:7). Kenapa “hati” lebih penting? Karena sifat dan sikap orang tidak ditentukan dari penampilan fisik mereka tetapi dari dalam hati, dari pikiran.

Sebagai manusia kita tidak seperti Tuhan, kita tidak bisa melihat ke dalam hati orang lain, atau membaca pikiran orang. Namun, bukan itu yang ingin diajarkan Alkitab. Melainkan: “Jangan menilai atau menghakimi orang lain karena penampilan fisik mereka.” Jika penampilan mereka jelek dan tidak menarik (mis. baju, celana atau sepatu atau bahkan wajah dan perawakan mereka yang seperti “monster”), janganlah diasosiasikan dengan jati dirinya/identitasnya. Demikian sebaliknya.

Ada sebuah pernyataan komersil “kesan pertama begitu menggoda”. Pernyataan ini ada benarnya. Kesan pertama bisa begitu menarik tetapi bisa juga membuat kita muak bahkan benci terhadap objek pengamatan kita. Tetapi saya ingin mengajak anda untuk berpikir lebih kritis sehingga anda tidak hanya “tergoda” karena kesan pertama, melainkan mencoba untuk “mengenal” lebih dekat (bahkan sesuatu yang membuat anda muak atau tidak suka); dalam hal ini maksud saya “manusia”, bukan barang (sebab barang tidak punya hati!).

Cobalah untuk menilai seseorang yang asing bagi kita bukan karena kesan pertama saja.

On Being a Person

Christian history is full of attempts to understand the nature of human being. The biblical witness to the Christian story, tells us that what and who we are, and are becoming, everything has to do with the tripersonal God to whom we belong (Eph. 1:3). As God’s image-bearer, who is regarded as both individual and corporate person; human “being” and identity are grounded in the reality of the triune communion of the Father, the Son, and the Spirit. A human being lives in relationship to the other as God’s creature. A human being is differentiated from other creatures in his uniqueness as the image-bearer of God. This differentiation is a structure of human being as a corporate person. Ray Anderson called this structure co-humanity, which is the material content of the principle of differentiation. In his fundamental existence, “human exists with regard to the other.” According to Anderson, the actual form of humanity in its original form is co-humanity, from which all of our knowledge of the human is derived.

This means that the Christian self and identity is determined by God’s call and by relationship with the other human beings. As a human being, we cannot live alone or isolated from other human beings. Our humanity is determined by our social relationship with the others. This is how we become a person. A Christian person is a social self, a relational self, a self who exists in being-in-relation with others selves. Just as the triune God in himself is relational, so do we in our very humanity are relational beings. We need the other in determining our identity as well as the other needs us. This reciprocal existence does not dissolve individual being into corporate being, but results in a determination of humanity in its singularity as well as its plurality.

However, this affirmation is not enough to solve the problem which I invoked. For the relationship with the others also has created conflicts. The otherness of the other as the precondition for relationship is also the source of conflicts among human beings. The difference among humans, for instance color of skin, race, culture, faith, ideology, etc., has been used as the condition of “exclusion”. The self, in its relationship with the other self, has always had a potency of maintaining “exclusive identity” which lead to exclusion of the other selves.

….

(You can read the rest of this post on page “Article” under the title Constituting a Person)

What a gift..!?

Dwyane Wade loves his mother, buys her a church

Well, this puts my bouquet of flowers to shame; Dwyane Wade bought his mom a church for Mother’s Day. (Show off.) No, I kid, it’s a great story. D-Wade’s mom Jolinda turned her drug addicted life around seven years ago when, after years of urging by her children, she got help and got clean. Along the way, she devoted her life to spreading the word of God, starting her first ministry while in prison. And now, thanks to her son, she’s got her own — Temple of Praise. And now, thanks to Wade, I feel horrible for passing on that extra bed of baby’s breath. (Sorry, mom.)

Why do we have to be hostile each other?

The problem of difference and otherness sometime creates hatred among human beings. This hatred can lead to enmity and result in killing among human beings. How can it be?

For some person, the reason is the difference of belief or the doctrine of the religion. They proclaims that they stands for the True Religious doctrine against the False doctrine, which they call heresy (bida’ah). These kind of persons “claims” that they hold the right or the true doctrine from God. The others who are different from them and whose belief different from their “belief” are seen as heretic and “believed” threatening their “true” belief. Therefore, they must eliminates the others who are different from them. Sometimes – and this is worse! – they “use” God to justifies their action.

Below, I put a link to YouTube that show a video from the “Tabligh Akbar” which was held by the fundamentalist Moslem in Indonesia. In the video you can watch them cursing the Ahmadiyah’s and blaming the government for the tolerance to the Ahmadiyah. This kind of “faith” has spoiled the goodness and kindness of Islam as a religion which also teach about the love toward others.

Kotbah yang Mencoreng Citra Islam

Who Am I?

Who Am I?

(by Dietrich Bonhoeffer)

Who am I? They often tell me

I stepped from my cell’s confinement

Calmly, cheerfully, firmly,

Like a squire from his country-house.

Who am I? They often tell me

I used to speak to my warders

Freely and friendly and clearly,

As though it were mine to command.

Who am I? They also tell me

I bore the days of misfortune

Equally, smilingly, proudly,

Like one accustomed to win.

Am I then really all that which other men tell of?

Or am I only what I myself know of myself?

Restless and longing and sick, like a bird in a cage,

Struggling for breath, as though hands were

compressing my throat,

Yearning for colors, for flowers, for the voices of birds,

Thirsting for words of kindness, for neighborliness,

Tossing in expectation of great events,

Powerlessly trembling for friends at an infinite distance,

Weary and empty at praying, at thinking, at making,

Faint, and ready to say farewell to it all?

Who am I? This or the other?

Am I one person today and tomorrow another?

Am I both at once? A hypocrite before others,

And before myself a contemptibly woebegone weakling?

Or is something within me still like a beaten army,

Fleeing in disorder from victory already achieved?

Who am I? They mock me, these lonely questions of mine.

Whoever I am, Thou knowest, 0 God, I am Thine!

(Dietrich Bonhöffer, a young theologian of great promise, was martyred by the Nazis for his participation in a plot against the life of Adolf Hitler. His strunggling for the sake of the “true religious acts” against the unjust and evil deeds has inspired many theologians, including me.)