Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang

Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang

Oleh: Novel Matindas, Th.M

Pembacaan Alkitab: Mazmur 145:9

Gagasan Utama

Tuhan adalah pencipta semesta dan isinya, termasuk di dalamnya manusia. Ini berarti semua manusia adalah ciptaan Tuhan, tanpa terkecuali. Alkitab menyaksikan bahwa meski pun manusia telah berdosa, Tuhan tidak pernah meninggalkan ciptaanNya itu. Tuhan senantiasa beserta  ciptaanNya: mendampingi, memelihara dan menolong manusia. Dalam penyertaanNya kepada manusia itu, Tuhan tidak bersikap diskriminatif atau pun memihak. Ia melihat semua manusia “sama” di hadapanNya. Namun, yang membedakan manusia satu dengan yang lain di hadapan Tuhan adalah kebaikan dan kejahatan mereka.

Tujuan Pembelajaran

Melalui penelahaan Alkitab ini, peserta diharapkan dapat:

  1. Menjelaskan bahwa kebaikan Tuhan berlaku untuk semua orang;
  2. Mendaftarkan apa saja kebaikan Tuhan yang sudah ia alami dan ia harapkan terjadi dalam hidupnya;
  3. Mengekspresikan kebaikan Tuhan itu kepada orang lain dalam bentuk perkataan dan perbuatan.

Pembahasan Teks

Ini adalah penggalan dari Mazmur 145 yang merupakan puji-pujian Daud atas kebaikan TUHAN. Daud hendak mengagungkan kemurahan Tuhan yang telah dialaminya selama ini. Secara struktural Mazmur ini terdiri atas: a Pembukaan pujian (ay. 1-4); b. Perayaan dan peringatan terhadap perbuatan-perbuatan Allah yang baik (ay. 5-9); c. Puji-pujian terhadap Allah sebagai Raja, Penopang alam semesta dan Juruselamat (ay. 10-20); d. Kesimpulan (ay. 21).

Ayat tema ini berada di dalam bagian kedua Mazmur ini yang mengajak untuk merayakan perbuatan-perbuatan Allah yang baik kepada alam semesta dan isinya. Menarik untuk dibandingkan, ayat ini didahului oleh ay. 8 yang menegaskan bahwa Tuhan itu Pengasih dan Penyayang, panjang sabar dan besar kasih setiaNya. Rahmani dan Rahimi. Pemahaman yang sama dapat kita jumpai dalam ajaran agama Islam. Ini juga adalah inti ajaran Kristus: Kasih.

Jelas pada bagian ini bahwa kepentingan universal menjadi salah satu pengakuan Iman Israel. Israel bukanlah satu-satunya penerima “kasih setia” Ilahi; namun dinyatakan juga dalam anugerah Tuhan kepada semua ciptaanNya. Hal ini juga dapat kita temukan dalam kitab Yunus di mana kasih dan anugerah Tuhan itu dinyatakan atas orang-orang yang tidak percaya. Demikian Kasih Tuhan dinyatakan kepada orang Kristen dan juga non-Kristen.

Refleksi

Ketika para pendiri Negeri ini merumuskan Pancasila dan pada akhirnya menetapkannya sebagai dasar negara, maka bukan tanpa alasan jika mereka memilih Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan utama pemersatu bangsa ini. Sejak Sumpah Pemuda diikrarkan, oleh Jong Celebes, Jong Java, Jong Sumatera dan lainnya, kemajemukan Indonesia telah menjadi isu utama berdirinya republik Indonesia tercinta ini. Negeri ini ada dan berdiri hingga sekarang karena persatuan segenap warga negara yang berlainan latar belakang suku, agama dan ras nya. Tidak dapat dipungkiri bahwa inilah anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia. Tuhan telah memberikan kita sebuah negara yang di dalamnya kita hidup bertetangga satu sama lain. Tuhan tidak memberikan Indonesia hanya kepada orang yang beragama Kristen saja atau Islam saja, tetapi kepada semua agama.

Beberapa waktu yang lalu bangsa Indonesia telah sukses menyelenggarakan Pemilihan Umum, baik untuk anggota badan legislatif maupun Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin negara ini lima tahun ke depan. Proses Pemilu tersebut telah mengakibatkan adanya sekat antara kelompok yang satu dan yang lain. Para pendukung partai “A” menjadi “musuh” bagi para pendukung partai “B”. Masing-masing kelompok menganggap dirinya lebih baik dari kelompok yang lain dan mereka ingin memenangkan Pemilu. Tidak jarang kita temukan, bahkan banyak, pelanggaran yang dilakukan selama masa kampanye dan Pemilu tersebut. Kejadian-kejadia tersebut telah mengakibatkan “luka dan bahkan kebencian” kepada berbagai pihak, tidak hanya mereka yang kalah dalam Pemilu, tetapi juga kelompok yang menang (meski tentu lebih mudah bagi kelompok yang menang untuk melupakannya).

Hasil yang baik dari Pemilu pun kurang diperhatikan, dan KPU lebih banyak mendapatkan kritik daripada pujian. Terlepas dari berbagai kecurangan dan kekurangan yang terjadi selama Pemilu, kita sebagai umat Kristen patut bersyukur bahwa Pemilu tahun ini telah berlangsung dan menghasilkan “sesuatu” tanpa adanya pertumpahan darah atau chaos seperti di Iran atau Irak, dimana banyak sekali rakyat yang menjadi korban pertikaian elit politik. Tentu baik tidaknya hasil pemilu itu akan kita ketahui seiring dengan berjalannya waktu pemerintahan mereka yang telah terpilih.

Kita juga patut bersyukur atas terpilihnya sekretaris jenderal Dewan Gereja se-Dunia yang baru, Rev. Dr. Olav Fykse Tveit dari Norwegia. Dr Tveit yang berumur 48 th. adalah Sekjen DGD termuda selama 61 berdirinya DGD. Dalam pidato kemenangannya, Dr. Tveit menegaskan bahwa agenda “kesatuan”, tetap penting hingga sekarang (John 17).  Ia menambahkan bahwa banyak umat kristen sekarang adalah minoritas di komunitas dan negaranya, dan banyak dari mereka menderita sengsara, kemiskinan dan kekerasan. Ia mengatakan “kita dapat membangkitkan suara orang lain, dan kita dapat memperkuat suara orang lain. Kita perlu pendampingan dan advokasi.” Dalam pada itu, ia juga menyatakan pentingnya menjalin hubungan baik dan kerjasama terutama dengan umat muslim. “Dialog dan kerja sama dengan Islam secara partikular sangat penting pada saat ini,” ungkapnya. Ia menambahkan, “jalan ke depan dimulai dengan premis: melihat orang lain sebagai sesama manusia.”

Walau demikian,  kita tidak dapat menutup mata dengan kejadian pengeboman hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton yang baru saja terjadi beberapa bulan yang lalu yang dilakukan oleh kelompok teroris pimpinan Nurdin M. Top. Di tengah optimisme para pemimpin bangsa dan gereja, kita juga perlu memperhatikan realita di sekeliling kita, bahwa masih ada orang-orang yang sangat eksklusif dan menganggap dirinya dan kelompoknya sebagai yang paling benar. Sikap hidup dan cara berpikir demikian tidak menjadikan dunia ini menjadi tempat yang baik untuk didiami. Melainkan, lebih buruk dengan jatuhnya korban jiwa akibat kesesatan berpikir mereka. Sikap hidup seperti ini hanya akan mengisolasi diri kita dari kehidupan sosial. Sementara faktanya, kita hidup tidak sendirian di dunia ini. Kelompok-kelompok yang eksklusif tersebut tidak menghargai pluralisme/kemajemukan yang ada. Mereka ingin agar orang-orang dan kelompok yang berbeda dari mereka menjadi sama seperti mereka. Jika orang-orang/kelompok itu tidak mau menjadi sama seperti mereka, maka harus ditiadakan dari dunia ini.

Terhadap sikap dan cara berpikir seperti ini, kita perlu berefleksi pada topik kita ini: “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang.” Apakah sebenarnya relevansi penggalan ayat Alkitab ini bagi kita sekarang, sebagai warga negara dan sebagai warga gereja?

Jawabannya adalah: Tuhan tidak menyetujui sikap eksklusivisme. Tuhan itu baik kepada semua orang, berarti bahwa kebaikkan Tuhan itu tidak hanya kepada orang kristen saja, tetapi juga kepada orang yang bukan kristen. Tuhan itu baik kepada semua orang, hendak mengingatkan kita bahwa pluralitas adalah bagian dari proses penciptaan oleh sang khalik. Pluralitas adalah realita dan fakta keberadaan alam semesta ciptaan Tuhan. Tuhan itu baik kepada semua orang, adalah penegasan akan kasih dan karunia Tuhan yang universal sifatnya tanpa batasan terhadap kelompok tertentu saja. Tuhan itu baik kepada semua orang, adalah bukti nyata bahwa umat kristen turut andil dalam menciptakan persatuan dan kesatuan di Indonesia dan di dunia.

Dalam bukunya, After Our Likeness (Wilm. B. Eerdmans: 1998), Miroslav Volf menekankan betapa pentingnya gereja (baca: umat kristen) memahami bahwa keberadaan mereka di dunia ini tidak hanya untuk diri mereka sendiri melainkan juga untuk  orang lain. Sebagai gambar Allah, gereja tidak dapat hidup eksklusif: terpisah dari dunia ini. Ini adalah hakikat gereja yang juga hakikat diri Allah yang tritunggal. Sebagaimana Bapa, Anak dan Roh Kudus yang berbeda tetapi adalah satu dan berasal dari yang Tunggal, demikian juga umat kristen dan orang lain di dunia ini adalah bagian yang tidak terpisahkan sebagai ciptaan Tuhan. Jika kita mengaku percaya pada Roh Kudus, maka kita pun harus dapat hidup bersama orang lain yang berbeda keyakinan dari kita, karena Roh Tuhan pun ada dalam diri setiap manusia; hanya terkadang manusia lebih memilih untuk mengikuti roh (baca: ego) – nya sendiri. Jika kita mengaku percaya kepada Yesus Kristus, maka kita seharusnya yakin bahwa Keselamatan kekal itu berasal dari Tuhan dan diberikan secara cuma-cuma. Keselamatan itu adalah anugerah yang diberikan kepada semua orang, dan dapat menjadi milik semua orang. Jika kita telah menerimanya cuma-cuma, bukankah seharusnya kita tidak “menghakimi” orang lain yang berbeda keyakinan? Sebab Tuhan Yesus Kristus pun sanggup untuk menyelamatkan mereka yang berbeda keyakinan. Hanya perlu kita ingat bahwa anugerah itu “mahal” meski ia gratis. Karena anugerah itu diberikan lewat kematian Yesus, anak Tunggal Allah, di kayu salib.

Pertanyaan untuk didiskusikan

  1. Jika Tuhan itu baik kepada semua orang, kenapa masih ada kejahatan di dunia ini?
  2. Dalam Perjanjian Lama banyak kita temukan cerita tentang kemarahan Tuhan, bahkan tidak jarang kita baca bahwa Tuhan menghukum manusia karena kejahatannya. Apakah sikap Tuhan tersebut adalah “ketidakbaikkan” Tuhan?
  3. Bisakah Tuhan menjadi Jahat? Jika ya, kenapa demikian?
  4. Apakah orang yang berbeda keyakinan dengan kita dapat masuk surga? Bagaimana kita menyikapinya?
  5. Apakah yang baik yang bisa anda lakukan dalam mempersiapkan Sidang Raya XV PGI? Dan bagaimana anda akan melakukannya?

(Bahan Penelaahan Alkitab Sidang Raya PGI XV di Mamasa, tahun 2009)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s